Waktu menunjukkan pukul 6 pagi ketika terlantun do’a khotmil Qur’an menggaung memenuhi ruang udara seisi asrama putra PPG Unnes. Lantunan yang bisa terdengar jelas dari balkon lantai 3 ini, terdengar sangat familiar dengan nada andalan yang umumnya menjadi pakem seantero nusantara. “Allahummar hamna bil Qur’an ...”
Ada kegiatan apa di asrama putra?
Subuh tadi terbangun kami dengan gema adzan yang lebih sakti membukakan mata ketimbang alarm HP. Suara muadzin yang mengisyaratkan raut kantuk berkombinasi dengan speaker parau asrama putra mengembalikan kesadaran seisi gedung dari ketidakberdayaan dimensi lelap.
Derap langkah terdengar dari tiap lorong kamar menyambut datangnya waktu Subuh. Semua meninggalkan peraduan menuju kepada sang Maha Tujuan. Bukan sekadar memenuhi daftar presensi, melainkan niat sepenuh hati menghadap Illahi. Nada bacaan Mas Farid yang agak kental nuansa jawanya memimpin jamaah menunaikan subuhan dengan khusyuk.
Bunyi pintu kamar dari tiap lantai saling berlomba menyambut tuannya kembali. Pagi ini kuputuskan untuk tetap tinggal dilantai 1. Bukan karena gelapnya kamar akibat korsleting semalam, ataupun langkah kaki yang enggan beradu dengan puluhan anak tangga menuju B3 42. Rasa penasaranku menuju kepada sekumpulan penghuni asrama yang membawa Qur’an. Benar, Qur’an.
Dengan senyum, satu persatu penghuni lainpun merapat. Wajah mereka menyiratkan karakter orang-orang yang menolak untuk menutup pintu ilmu diwaktu apapun, bahkan ba’da subuh yang lekat dengan istilah waktu tidur kedua. Perlahan kupahami kegiatan mereka adalah membaca Qur’an bersama, membaca secara bergantian, dan mendalami ilmu tajwid.
Digawangi Mas Azam, Mas Rahman, serta Mas Umam, forum ini terasa sangat cair. Mengalirkan ilmu tanpa harus menyiram, karena setiap anggota dibebaskan untuk menggayung. Dialektika terjalin mesra lewat candaan tanpa mengurangi kekhidmatan. Sebuah forum yang cocok mengakomodasi kebutuhan dari berbagai lini, dari kebutuhan akan makanan rohani hingga kebutuhan kegiatan pengganti tidur kedua.
Seperti penemu kata kursi yang menyebut benda kursi dengan nama kursi, melaui hak yang sama, kami lemparkan sebuah nama yang agaknya bisa menjadi representasi makna kegiatan tersebut. Gema Al-qur’an menyusuri Subuh (Gambuh), karna sarat keindahan awalan “sekar” nampaknya sangat pas. Sekar Gambuh, begitu cara kami menyebutnya.