Rabu, 18 Mei 2016

Sekar Gambuh

Waktu menunjukkan pukul 6 pagi ketika terlantun do’a khotmil Qur’an menggaung memenuhi ruang udara seisi asrama putra PPG Unnes. Lantunan yang bisa terdengar jelas dari balkon lantai 3 ini, terdengar sangat familiar dengan nada andalan yang umumnya menjadi pakem seantero nusantara. “Allahummar hamna bil Qur’an ...” 

 Ada kegiatan apa di asrama putra? 

Subuh tadi terbangun kami dengan gema adzan yang lebih sakti membukakan mata ketimbang alarm HP. Suara muadzin yang mengisyaratkan raut kantuk berkombinasi dengan speaker parau asrama putra mengembalikan kesadaran seisi gedung dari ketidakberdayaan dimensi lelap. 

Derap langkah terdengar dari tiap lorong kamar menyambut datangnya waktu Subuh. Semua meninggalkan peraduan menuju kepada sang Maha Tujuan. Bukan sekadar memenuhi daftar presensi, melainkan niat sepenuh hati menghadap Illahi. Nada bacaan Mas Farid yang agak kental nuansa jawanya memimpin jamaah menunaikan subuhan dengan khusyuk. 

Bunyi pintu kamar dari tiap lantai saling berlomba menyambut tuannya kembali. Pagi ini kuputuskan untuk tetap tinggal dilantai 1. Bukan karena gelapnya kamar akibat korsleting semalam, ataupun langkah kaki yang enggan beradu dengan puluhan anak tangga menuju B3 42. Rasa penasaranku menuju kepada sekumpulan penghuni asrama yang membawa Qur’an. Benar, Qur’an. 

Dengan senyum, satu persatu penghuni lainpun merapat. Wajah mereka menyiratkan karakter orang-orang yang menolak untuk menutup pintu ilmu diwaktu apapun, bahkan ba’da subuh yang lekat dengan istilah waktu tidur kedua. Perlahan kupahami kegiatan mereka adalah membaca Qur’an bersama, membaca secara bergantian, dan mendalami ilmu tajwid. 

Digawangi Mas Azam, Mas Rahman, serta Mas Umam, forum ini terasa sangat cair. Mengalirkan ilmu tanpa harus menyiram, karena setiap anggota dibebaskan untuk menggayung. Dialektika terjalin mesra lewat candaan tanpa mengurangi kekhidmatan. Sebuah forum yang cocok mengakomodasi kebutuhan dari berbagai lini, dari kebutuhan akan makanan rohani hingga kebutuhan kegiatan pengganti tidur kedua. 

Seperti penemu kata kursi yang menyebut benda kursi dengan nama kursi, melaui hak yang sama, kami lemparkan sebuah nama yang agaknya bisa menjadi representasi makna kegiatan tersebut. Gema Al-qur’an menyusuri Subuh (Gambuh), karna sarat keindahan awalan “sekar” nampaknya sangat pas. Sekar Gambuh, begitu cara kami menyebutnya.

Jumat, 18 Maret 2016

Pembekalan PPG : Ajang reuni, orientasi, hingga unjuk taji


Prosesi program PPG telah memasuki babak baru. Setelah proses Lapor diri pada tanggal 15 maret di LPTK penyelenggara, para peserta sudah bisa menempati asrama yang disediakan. Para peserta, kemudian diharuskan mengikuti kegiatan pembekalan selama 3 hari berturut-turut meliputi pengenalan kegiatan akademik dan non-akademik, kehidupan berasrama, serta wawasan kebangsaan. Dalam kegiatan ini para peserta dituntut untuk membekali diri guna menghadapi kegiatan perkuliahan PPG yang seminggu kedepan akan resmi dimulai.
Selain untuk membekali diri, pembekalan ini dimanfaatkan para peserta untuk melakukan agenda lain yang belum terlaksana pasca SM-3T Lho. Kira – kira agenda apa sih? yuk kita intip

1. Ajang reuni
“hei apa kabar? kemaren penempatan dimana? gimana keadaan disana?”

Kira-kira pertanyaan seperti itulah yang berulang kali terdengar selama pembekalan. Jiwa-jiwa yang rindu akhirnya kembali bertemu. Teman sesama penempatan yang terpisah jeda kepulangan. Teman satu jurusan yang terpisah penempatan. Teman lain jurusan yang terpisah penempatan dan jeda kepulangan. Pokoknya ketemu semua. Tak ayal, pada masa-masa ini tempat nongkrong menjadi ramai. Warung – warung kopi menjadi saksi reuni setelah lama terpisah pergi. Pokoknya rame deh. 
Tapi jangan terlalu heboh ya guys, kasian juga temen-temen LPTK yang nasibnya berkebalikan. Meraka tercerai-berai, hingga harus mengungsi ke LPTK lain. *pukpuk

2. Masa orientasi
Ekspresi bingung terlihat dari raut wajah para peserta mendengar istilah-istilah seputar dunia perkuliahan kembali. Mulai dari SSP, SKS, Pedagogik, KI, KD, PM, MP, PP,PT dll.
“ haduuh, itu maksudnya apa sih, aku kok ndak paham”

*Makanya disimak baik-baik mbak mas, ngana ribut mulu sih daritadi

Disamping itu, kegiatan pembekalan yang begitu padat dan makan waktu yang sangat lama memang menguras energi dan konsentrasi. Tapi, kalo segitu aja udah ngeluh gimana pas mulai kuliah nanti? PPG bukan untuk orang-orang cengeng, doyan ngeluh, dan ndak sungguh-sungguh. Asli deh.



3. Unjuk taji

Disamping kedua hal diatas, pembekalan juga dijadikan ajang unjuk taji bagi segelintir oknum atau kelompok, istilah kerennya pencitraan. Masa pembekalan itu kan seluruh PPG lintas jurusan berkumpul menjadi satu, nah, kesempatan itulah saat yang tepat untuk mencitrakan diri/kelompok . Dengan berbagai modus seperti sering-sering bertanya ndak penting, mendadak rame secara kompak, bahkan berpenampilan “unik” sah dilakukan untuk mencari nama. Well, memang ndak salah sih. Itu kan karakter seseorang/kelompok aja. Lagian, semua pasti segera tenggelam kembali setelah nyemplung ke kesibukan PPG. Blupuk..blupuk..blupuk.. kira-kira begitu bunyinya. 
Guru profesional itu dikenal lewat dedikasi dan karyanya, jadi mending budayakan “promote what we’ve done” instead of “what we can do” ( banggakanlah hal-hal besar yang sudah kita lakukan, daripada berteriak mengaku profesional tapi mandul karya, dedikasi, dan prestasi) ngono kayane.. ndak iyo?

Well well.. pembekalan kan disiapkan agar kita cepet nyetel dengan tempo,irama, dan nada pembelajaran PPG, so alangkah baiknya cepat-cepat kita memasang visi “pahami aturannya, rencanakan strateginya, dan menangkan permainannya” ya, sesimpel itu.

Selamat menempuh PPG, Pejuang!

Senin, 14 Maret 2016

Retorika Pra - PPG


Sering muncul pertanyaan dalam hati, guru profesional itu seperti apa sih? apa hanya karena embel-embel gelar? ataukah ada perbedaan yang lain? Dan apakah guru lulusan PPG otomatis disebut guru profesional? Mari kita bicarakan.

Menurut UUGD no. 14 tahun 2005, yang disebut profesional adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Jadi, variabel yang harus dipenuhi agar bisa disebut profesional adalah (1)melakukan kegiatan/pekerjaan yang menjadi sumber penghasilan, (2)memerlukan keahlian, (3)memenuhi standar mutu, dan (4)mengikuti pendidikan profesi

Mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang notabene adalah pendidikan profesi untuk kalangan guru, memberi kita nilai tambah untuk semakin dekat dengan status pendidik profesional. Namun, apakah setelah menyelesaikan program PPG kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas? Kemudian, apa perbedaan kita dengan guru-guru lain diluar sana?. Kalau jawabannya sekadar “sudah pernah mengikuti program SM-3T dan PPG” berarti ada sesuatu yang penting dalam proses keduanya.

SM-3T sudah kita lalui, dan seharusnya sudah kita evaluasi secara pribadi. Adakah yang bertambah dari kita secara keilmuan? atau setahun kemarin hanya sekadar menjalankan rutinitas sambil mengalami hal-hal baru tanpa belajar darinya?. Jika kita dapat menjawabnya dengan baik berarti kita sudah berada di jalur yang tepat, yaitu mengikuti program PPG.

Salah satu tanda keragu-raguan akan hasil SM-3T kemarin adalah tidak mempersiapkan apa-apa untuk PPG mendatang. Kita yang ragu cenderung menganggap semuanya sama saja. Ikuti program, jalani rutinitas, budayakan copas, asalkan biaya hidup pas, setelah selesai baru kembali was-was. Kita tidak yakin akan potensi diri. Kita tidak sadar akan potensi perubahan yang berawal dari sebuah keyakinan. Kita tidak yakin bahwa pendidikan di Nusantara masih bisa diperbaiki. Kita tidak berani bermimpi disaat menyuruh para murid untuk bermimpi. Bahkan kita hanya mau berada di zona nyaman. Layakkah kita disebut guru profesional? Pantaskah kita disemati label profesional? Patutkah kita menyebut diri kita sebagai seorang guru?

Semua belum terlambat. Semua masih bisa diperbaiki. Semua masih bisa dikembalikan sebagaimana mestinya. Asalkan kita yakin. Asalkan kita mau. Asalkan kita mempersiapkan diri.

Selamat menempuh PPG, Pejuang!

Rabu, 09 Maret 2016

PPG Didepan mata, persiapan apa saja?


            Geliat persiapan PPG sudah mulai nampak dikalangan calon peserta. Beberapa sudah bersiap menata semua yang akan mereka bawa ketika PPG. Namun, persiapan tidaklah cukup dari segi barang bawaan saja, semuanya perlu dipersiapkan. Berdasarkan pantauan tim PPGnews via media sosial, persiapan yang dilakukan para calon peserta dikelompokan menjadi berikut ;

1. Persiapan Administrasi

Syarat administrasi yang diajukan oleh LPTK bagi sebagian calon peserta sangatlah menguras energi, biaya, dan perasaan. Bayangkan saja syarat administrasi seperti pembuatan SKBN, Surat Keterangan Berbadan Sehat dan SKCK bila ditotal menelan biaya sekitar 200ribu, belum lagi tenaga yang dikeluarkan saat mengurusinya. Namun semua itu tidak seberapa dampak psikologisnya dibandingkan dengan pembuatan Surat Keterangan Belum Menikah dari Kelurahan dan Surat Pernyataan Tidak Akan Menikah selama PPG. Melalui surat tersebut para calon peserta merasa bahwa Kejombloan dan Kebelum-lakuan mereka disertifikasi dan dilegalkan oleh pemerintah. Pun mereka harus menelan kenyataan pahit bahwa setahun kedepan belum bisa mereguk kebahagiaan berumah tangga. Semoga tidak ada syarat tambahan seperti Surat Pernyataan Tidak akan Cinlok selama PPG, eh?.

2. Persiapan Barang bawaan

Bagi kaum adam, persiapan barang bawaan tidaklah menjadi sebuah masalah berarti. Mereka terlahir untuk berfikir simpel “bawa seperlunya, yang lain bisa menyusul”. Berbeda dengan mereka, calon peserta putri memampang visi “bawa semuanya selama masih muat, haram hukumnya ketinggalan barang” setiap kali melakukan packing. Mari berdo’a agar tidak ada kuli panggul yang terkilir tangannya saat membawakan barang-barang milik mereka.



3. Persiapan Fisik dan Mental

Jeda selama 7 bulan tak jarang mengakibatkan kesehatan fisik dan mental para calon peserta agak terganggu menurun. Beberapa yang merasa gendutan selama jeda, perlahan-lahan mengatur kembali pola makan dan mebiasakan olahraga. Bagi yang merasa kurusan, secara mendadak menjadi rakus hingga memakan tiang rumah sebagai cemilan  peduli terhadap penampilan. Persiapan mental yang paling terasa dikalangan calon peserta adalah memperbanyak baca buku, memperbanyak piknik (bakal dapet larangan piknik setahun kedepan), memperbanyak begadang tidak produktif, dan memperbanyak teman curhat untuk tempat mengeluh saat PPG nanti.

4. Persiapan Hati

Dari semua persiapan, mempersiapkan hati agaknya menjadi yang paling rumit, kompleks, dan korban perasaan. Pasalnya, ada beberapa hal yang harus mereka tinggalkan sebelum memasuki dunia asrama PPG. Meninggalkan rumah akan sangat berat ketika 7 bulan ini bisa bermalas-malasan dan bercengkrama dengan keluarga. Terlebih lagi harus Meninggalkan teman-teman dilingkungan rumah yang bersedia menerima kita nganggur adanya apa adanya. Namun dari semua itu yang terberat adalah saat harus kembali Meninggalkan pasangan yang pernah kita tinggalkan setahun selama SM-3T (kalo belum putus). Beruntunglah bagi pasangan yang keduanya ikut PPG (satu lokasi) karena LPTK tidak mempunyai “alat pendeteksi potensi pacaran selama PPG” jadi keadaan relatif aman. Pesan kami, jaga perasaan para kaum jomblo legal ya...hiks.


Demikian persiapan yang sejauh ini terpantau dari radar PPGNews. Semoga bisa menjadi referensi bagi yang lain. Jadi, sudah sejauh mana persiapanmu?

PPG DATANG, HATIKU TENANG


Penantian panjang para calon peserta PPG SM-3T angkatan IV akhirnya terbayar. Setelah menunggu lama sekitar 7 bulan (sejak september 2015) akhirnya kepastian jadwal pun didapatkan. Lewat laman belmawa.ristekdikti.go.id  pemerintah mengumumkan LPTK Penyelenggara Program PPG SM-3T angkatan IV, serangkaian jadwal kegiatan, serta ploting penempatan peserta.

Sesuai pernyataan resmi dari pemerintah, LPTK yang ditunjuk untuk menyelenggarakan program PPG sebanyak 23 LPTK. LPTK tersebut diantaranya adalah UIB Bengkulu, UNG Gorontalo, UNMUL Samarinda, UNJ Jakarta, UNM Makassar, UM Malang, UNIMA Manado, UNIMED Medan, UNP Padang, UNNES Semarang, UNESA Surabaya, UNY Yogyakarta, UNDANA NTT, UNDIKSHA Bali, UPI Bandung, UNRI Riau, UNS Solo, UNSYIAH Aceh, UNTAN Pontianak, UNINUS Bandung, UMM Malang, UPGRIS Semarang, dan USD Yogyakarta. 

Selain mengumumkan LPTK penyelenggara, jadwal kegiatan telah disusun sedemikian rupa untuk mempermudah proses masuk Program yang sudah berjalan 4 angkatan ini. Jadwal tersebut diantaranya adalah Registrasi Online pada tanggal 7-10 Maret, Lapor diri ke LPTK tanggal 14-16 Maret, serta Program Orientasi pada 17-19 Maret.


Dari sekian hal dalam pernyataan resmi pemerintah, ploting penempatan peserta menjadi yang paling ramai dibicarakan. Bagaimana tidak, penempatan merupakan hal krusial bagi calon peserta PPG. Pasalnya, ditempat tersebutlah peserta akan menghabiskan waktu selama setahun untuk belajar kembali. Beberapa akan tetap belajar di LPTK yang mengirimkan mereka sewaktu SM-3T, namun beberapa harus “mengungsi” ke LPTK lain terkait kebijakan dari Pemerintah. Namun, lingkungan baru, komunitas baru, hal-hal baru pasti tidak akan mengurangi semangat mereka untuk tetap belajar menjadi guru profesional mengingat kemampuan mereka selama masa SM-3T.

Kapan PPG?

Program Profesi Guru (PPG) SM-3T merupakan program dari kementrian pendidikan untuk  mempersiapkan lulusan S-1 Kependidikan yang telah mengikuti program SM-3T agar menguasai kompetensi guru secara utuh sesuai dengan standar nasional pendidikan. Berbagai pengalaman dari peserta selama masa pengabdian SM-3T akan diolah dan diformulasikan agar para peserta PPG menjadi guru yang cakap.

            Namun tidak dapat dipungkiri, masih ada beberapa masalah yang terjadi pada  proses penyelenggaraan PPG. Salah satu permasalahan yang terjadi adalah, lamanya jeda antara masa kepulangan SM-3T dengan mulainya kegiatan PPG. Permasalahan ini diperparah dengan tidak adanya info resmi seputar kapan dimulainya kegiatan PPG. Akibatnya, banyak isu-isu yang berkembang yang mengakibatkan kesimpang-siuran. Para calon peserta PPG pun seperti menanti ketidakpastian. Semoga permasalahan ini cepat selesai dan para calon peserta PPG dapat beraktifitas dengan tenang selama masa jeda pasca SM-3T.


 Jadi, kapan mulai PPG?