Senin, 14 Maret 2016

Retorika Pra - PPG


Sering muncul pertanyaan dalam hati, guru profesional itu seperti apa sih? apa hanya karena embel-embel gelar? ataukah ada perbedaan yang lain? Dan apakah guru lulusan PPG otomatis disebut guru profesional? Mari kita bicarakan.

Menurut UUGD no. 14 tahun 2005, yang disebut profesional adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Jadi, variabel yang harus dipenuhi agar bisa disebut profesional adalah (1)melakukan kegiatan/pekerjaan yang menjadi sumber penghasilan, (2)memerlukan keahlian, (3)memenuhi standar mutu, dan (4)mengikuti pendidikan profesi

Mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang notabene adalah pendidikan profesi untuk kalangan guru, memberi kita nilai tambah untuk semakin dekat dengan status pendidik profesional. Namun, apakah setelah menyelesaikan program PPG kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas? Kemudian, apa perbedaan kita dengan guru-guru lain diluar sana?. Kalau jawabannya sekadar “sudah pernah mengikuti program SM-3T dan PPG” berarti ada sesuatu yang penting dalam proses keduanya.

SM-3T sudah kita lalui, dan seharusnya sudah kita evaluasi secara pribadi. Adakah yang bertambah dari kita secara keilmuan? atau setahun kemarin hanya sekadar menjalankan rutinitas sambil mengalami hal-hal baru tanpa belajar darinya?. Jika kita dapat menjawabnya dengan baik berarti kita sudah berada di jalur yang tepat, yaitu mengikuti program PPG.

Salah satu tanda keragu-raguan akan hasil SM-3T kemarin adalah tidak mempersiapkan apa-apa untuk PPG mendatang. Kita yang ragu cenderung menganggap semuanya sama saja. Ikuti program, jalani rutinitas, budayakan copas, asalkan biaya hidup pas, setelah selesai baru kembali was-was. Kita tidak yakin akan potensi diri. Kita tidak sadar akan potensi perubahan yang berawal dari sebuah keyakinan. Kita tidak yakin bahwa pendidikan di Nusantara masih bisa diperbaiki. Kita tidak berani bermimpi disaat menyuruh para murid untuk bermimpi. Bahkan kita hanya mau berada di zona nyaman. Layakkah kita disebut guru profesional? Pantaskah kita disemati label profesional? Patutkah kita menyebut diri kita sebagai seorang guru?

Semua belum terlambat. Semua masih bisa diperbaiki. Semua masih bisa dikembalikan sebagaimana mestinya. Asalkan kita yakin. Asalkan kita mau. Asalkan kita mempersiapkan diri.

Selamat menempuh PPG, Pejuang!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar